TEMBILAHAN,MediaKepriNews.Com,: — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melalui Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Bidang KSDA Wilayah I terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta berbagai pemangku kepentingan dalam menangani konflik satwa liar jenis monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang meresahkan masyarakat di Kecamatan Tembilahan.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, melalui Plh. Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, menegaskan bahwa penanganan konflik satwa liar harus dilakukan secara terukur, profesional, dan berbasis konservasi. Menurutnya, keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama, namun upaya mitigasi juga harus tetap memperhatikan perlindungan terhadap satwa liar yang menjadi bagian dari ekosistem.
“Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar. Namun demikian, upaya mitigasi juga harus tetap mengedepankan prinsip konservasi. Karena itu, kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pemantauan, identifikasi, serta penanganan yang tepat terhadap individu satwa penyebab konflik tanpa menimbulkan risiko yang lebih besar bagi masyarakat maupun satwa itu sendiri,” ujar Ujang Holisudin.
Sebagai bentuk langkah konkret, Tim WRU BBKSDA Riau pada Rabu (5/8/2026) menggelar koordinasi bersama Kapolres Indragiri Hilir, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran, Camat Tembilahan, dan Lurah Tembilahan Kota. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Lurah Tembilahan Kota tersebut bertujuan menyatukan strategi penanganan sekaligus mengevaluasi perkembangan konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Hasil koordinasi menunjukkan bahwa konflik terjadi di kawasan Parit 12, Parit 13, Parit 14, Parit 15, hingga Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota. Sejak pertama kali dilaporkan pada 23 Juli hingga 5 Agustus 2026, tercatat sebanyak 19 warga mengalami luka akibat serangan monyet. Selain menimbulkan korban, kejadian tersebut juga memicu keresahan serta tekanan psikologis di tengah masyarakat.
Berdasarkan hasil pemantauan sementara, serangan diduga dilakukan oleh seekor monyet ekor panjang dewasa berjenis kelamin jantan yang memiliki ciri khas berupa bekas luka pada bagian pipi. Satwa tersebut diketahui kerap menyerang warga yang sedang sendirian atau lengah, dengan pola menyerang bagian kaki menggunakan gigitan sebelum kembali melarikan diri ke area sekitar.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, termasuk pemasangan umpan berupa pisang, individu monyet tersebut hingga kini belum memberikan respons. Sebelum keterlibatan Tim WRU BBKSDA Riau, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir bersama Forkopimda juga telah melakukan penyisiran lokasi menggunakan jaring dan tangguk dengan melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, pemerintah kecamatan, relawan, serta masyarakat.
Melalui rapat koordinasi tersebut disepakati bahwa seluruh proses penanganan akan mengedepankan keselamatan masyarakat tanpa mengabaikan prinsip-prinsip konservasi. Seluruh pihak diminta untuk tidak melakukan perburuan terhadap satwa liar, melainkan memperkuat pemantauan lapangan, melakukan identifikasi, serta menyiapkan kandang perangkap sebagai sarana evakuasi yang aman apabila individu monyet penyebab konflik berhasil ditemukan.
BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, tidak beraktivitas seorang diri di kawasan yang diduga menjadi jalur pergerakan satwa, tidak memberi makan satwa liar, serta segera melaporkan kepada petugas apabila melihat monyet dengan ciri-ciri yang telah diidentifikasi.
Melalui kolaborasi seluruh pihak, BBKSDA Riau berharap konflik manusia dan satwa liar di Tembilahan dapat segera diatasi secara efektif sehingga keselamatan masyarakat terjamin, sementara kelestarian satwa liar tetap terjaga sesuai prinsip konservasi.***







