Jambi, MeduaKepriNews.Com-Permasalahan tuduhan penggelapan dana salah di salah satu Gereja di kota Jambi, M br R. dipecat beserta keluarganya dari jemaat maupun keangotaan Gereja yang dimaksud.
Keputusan tersebut diumumkan secarah resmi oleh Pendeta Gereja tersebut pada 18 Juni 202, dan juga dipublis pada 20 juni dimedia massa.
Akibat permasalahan itu juga M br R telah melaporkan ke aparat hukum. Konflik antara Keluarga M br R dengan Pendeta, maka dari dilakukan untuk menenpuh jalan damai namun tidak menemukan jalan damai bahkan Pihak pengetua marga juga ditolak. Hal ini disampaikan H Situmorang Ahad (01/05/2022)
Inisiatif Tokoh Masyarakat dari marga Hutapea dan marga Situmorang mencoba mendatangi pimpinan wilayah Gereja itu (Praeses) setempat. Sekaligus membawa undangan tertanggal 11 April 2022 agar ada pertemuan pada 30 April 2022.
Untuk menjembatani, Tokoh masyarakat marga Hutapea, seperti AK Hutapea dari Tebing Tinggi, SUMUT dan S Hutapea br Sinaga, Ap Makmur Situmorang, Op Misel Siringo Ringo, A Tety Sutumorang dari kota Jambi. Tepatnya tanggal 11/04/2022, setiba dirumah dinas Praeses, disambut dengan baik, sekalipun singkat, sambil menyerahkan surat undangan pihak tokoh masyarakat marga Hutapea dan Situmorang
Tujuannya, agar ada pertemuan itu dirumah Praeses tanggal Sabtu 30/04/2022, dibekali surat undangan itu yang ditujukan kepada Pendeta Daniel B Aritonang, Sth maupun Majelis Gereja (Sintua). Agar ada solusi dan kesepakatan untuk berdamai, mengingat sudah satu tahun, belum ada tanda tanda etiket baik penyelesaian masalah. Baik norma agama, maupun norma adat dan norma hukum.
Pdt. Hardy Bontor Lumbantobing, STh selaku Praeses setelah membaca surat undangan dengan seksama menanggapi. “Janggal sekali ini, Kok kalian mengundang kami,” ujar Praeses,
Dijawab marga Hutapea, ” Ini sekedar informasi mmberitahukan biar kami datang kerumah Praeses. Tempat ini kita buat pertemuan. Kami tidak mencampuri internal urusan gereja kita, sedang kami adalah jemaat Katholik. Kami tidak akan mencampuri, namun setahu kami ada masalah Anak kami, dengan majelis dan Pendeta. Itu lah pak, maksud kedatangan kami. Biar ada perdamaian, ” balasnya.
Dengan spontanitas Praeses itu menjawab, tanpa membaca isi isi, atau makna undangan itu.
“Bagaimana perasaan bapak bapak, jika kalian adukan pastor ke yang berwajib?? Bagaimana??
Dan tidak ada solusi yang terbaik, Anak bapak ( keluarga M br R ) tetap suruh saja ber ibadah ke gereja, nanti setelah dua atau tiga bulan ini pindah saja ke gereja lain dan kami keluarkan surat pindahnya. Dan majelis gereja pun tidak suka melihat Anak bapak ( keluarga M br R )” tandas Praeses.
Didepan tokoh marga Hutapea dan Situmorang itu, sambil didengar petugas dikantor Praeses ber marga Siburian. “Itu saja solusi pak. Anak bapak ( keluarga M br R ) adalah pengganggu di gereja sehingga tidak lagi dapat diterima,” tegasnya.
Dikatakan Prases, “Lagian Negara tidak berhak mencampuri internal gereja, tidak berhak ,” tuturnya. “Dan tak perlu lagi bapak bapak pergi ngantar surat itu ke Pendeta, Majelis, tidak perlu,” kata Praeses menolak.
Namun tokoh masyarakat marga Hutapea dan Situmorang melayangkan surat ke pihak Pendeta dan Majelis lewat Kantor pos setempat.
Adapun isi isi, point undangan antara lain :
Agar pihak Gereja, Pendeta, mencabut surat yang dikeluarkan gereja untuk pemecatan sekeluarga K Hutapea /M br Ringo ringo.
Dan pihak umat K Hutapea mencabut aduan nya yang sudah sempat di Polda Jambi dan Medsos. Kemudian keluarga K Hutapea /Br Ringo ringo, diterima sebagai jemat yang tidak bermasalah seperti yang digariskan aturan Gereja. SR